; rumah mertua
tok
tok
tok
"Ahahahhah, lucu tau, Ji," ucap Dyza sambil melihat hasil foto yang baru saja ia tangkap.
"Oi," Jifar langsung berusaha untuk menutup mulut Dyza tetapi Dyza menahannya.
tok
tok
"Siapa itu?" tanya mama Dyza ketika mendengar suara ketukan pintu.
"Aku buka ya, ma," saut Dyza.
Saat Dyza membuka pintu, terlihat seorang pria yang sudah berdiri tegak di depan pintu dengan pakaian serba hitam.
"Hai cantik," sapa Jifar kepada Dyza.
"Hai, kamu tambah ganteng aja," Dyza tersipu malu ketika ia melihat sosok pria yang ia sayangi.
"Siapa tuh?" tanya mama sambil berjalan menuju pintu. Mama terlihat sedikit terkejut dengan kedatangan pria yang ia suka. Lalu mama berujar "Wah Jifar ternyata, sini nak masuk." Mama mempersilahkan Jifar untuk masuk.
Dyza, Jifar, dan mama berjalan menuju dapur. Sebelumnya, mama dan Dyza sudah baking kue dalam oven dan hanya tinggal menunggu kue tersebut matang lalu menghiasnya. Jifar mengambil handphone dari tasnya dan ia melihat notifikasi pesan dari Dyza.
"Yah Dyza, sorry saya baru liat pesan kamu," ucap Jifar meminta maaf.
"Gak apa-apa kok, Ji. Aku udah beli tadi sebelum kamu datang hehe."
"Ini Jifar kenapa bawa tas?" tanya mama yang melihat Jifar membawa tas gendong pada badannya.
"Oh ini, ma. Saya nanti mau lanjut pergi, jadi saya sekalian bawa tasnya ke sini," jelas Jifar.
"Gak keberatan? takut repot ya kalo harus pulang dulu lagi nanti."
"Nah, itu maksud saya, ma. Saya gak demen repot-repot."
"Oke deh, tunggu kuenya matang nanti kita hias bareng-bareng."
"Siap ma!" saut Jifar dan Dyza bersamaan. Kemudian mereka berdua tertawa kecil karena menyadari bahwa mereka bersaut di waktu yang bersamaan. gemes klo ngebayanginnya.
Saat menunggu kue matang, Jifar dan Dyza berbincang di sofa ruang tamu. Dyza duduk di sofa tengah, Jifar masih berdiri di depan Dyza.
"Ji, sini coba liat kamera," ajak Dyza sambil memegang handphonenya berniat untuk mengambil foto Jifar.
"Ahah enggak mau, jangan za ahaha," Jifar malu sebab ia tidak terlalu percaya diri untuk difoto Dyza.
cekrek
"Ahahahhah, lucu tau, Ji," ucap Dyza sambil melihat hasil foto yang baru saja ia tangkap.
"Ihhhh malu-malu gitu, lucu bangettt."
"Udah ah, Za. Saya malu nih," Jifar menutupi mukanya agar tidak terlihat sedang blushing.
"Ini coba liat dulu. Kamunya ganteng," kata Dyza. Dyza menyodorkan handphonenya ke hadapan Jifar.
"Za, itu saya jelek banget."
"IHHH ENGAK. Ini lho ganteng banget, pengen aku culik."
"Kamu mau culik saya?" tatap Jifar kepada Dyza. Kemudian Dyza mengalihkan pandangannya dari handphone lalu menatap Jifar balik.
"Iya, ehe. Boleh?"
"Sini," Jifar ingin berbisik kepada Dyza "Tanya mama kamu dulu."
"MAAAAA, JIFAR TINGGAL DI SINI YAAA. BOLEH KAN?" Dyza berteriak agar mama bisa mendengar dengan jelas permintaanya.
"Mmmm, LEPASIN," pinta Dyza.
"Jangan teriak-teriak, saya kan cuma bercanda," tegas Jifar.
Mama yang sedang mengangkat kue dari oven, mendengar teriakan Dyza yang bergitu keras. "DYZA, GAUSAH TERIAK-TERIAK, BERISIK."
"Tuh kan, mama kamu marah."
"Enggak wle," Dyza menjulurkan lidahnya ke hadapan Jifar lalu menghampiri mama dengan tujuan meminta perizinan agar Jifar dapat tinggal di rumahnya.
"Gemes, ada aja tingkah lakunya," bisik Jifar. Kemudian Jifar menyusul Dyza menghampiri mama.
Sesampai Dyza dan Jifar ke dapur, mama sedang menyiapkan bahan-bahan untuk menghias kue. "Ma, tadi Jifar bilang dia mau tinggal di sini," ucap Dyza sambil melihat mamanya.
"Ha? Kenapa emang? Nih bantuin hias kue dulu."
"Enggak, ma. Dyza bohong. Jangan percaya sama dia," bilang Jifar dengan tatapan julid ke arah Dyza.
"Apasihhh," Dyza menabok lengan Jifar. "Wuuu, tapi boleh gak, ma? Kalo Jifar tinggal di sini."
"Emang Jifar gak dicariin mamanya, ha? Ntar mama papanya kangen, kamu mau maksa Jifar tinggal di sini? Mau tidur di mana dia nanti? Kamar kamu? gak boleh ah," tanya mama menatap Dyza dan Jifar.
"Emm... tapi Jifar kabur dari rumah, ma," ucap Dyza pelan.
"Maksudnya, Jifar dari dulu udah tinggal sendiri. Dia ngekost trus sekarang tinggal di apartment," jelas Dyza melanjuti kata-katanya.
Jifar yang mendengar kejujuran Dyza tentangnya pun langsung menatap Dyza dengan serius. Pada saat itu juga, Dyza bingung apa reaksi mamanya setelah ia berkata seperti itu.
"Ada apa? kenapa Jifar kabur dari rumah?" Mama bertanya dengan nada serius. "Mama kamu ngusir kamu dari rumah? iya, Jifar?"
"Huh?" sadar Jifar setelah mama menanyakan hal tersebut kepadanya.
Lalu Jifar menjelaskan "Enggak gitu, ma. Jifar gak tinggal bareng mama papa lagi karena Jifar udah gak kuat untuk tinggal bareng. Jifar selalu dibentak sama mereka. Mereka bilang Jifar harus nurut aturan mama papa. Jifar selalu dikekang, seperti harus belajar berjam-jam, seharian tanpa bermain handphone, makan yang selalu disajikan dengan banyak lalu harus habis dalam beberapa menit saja, dan banyak lagi. Jifar juga sering ditabok pakai sapu oleh papa karena Jifar gak nurut waktu itu. Saya tau bahwa saya ini anak tunggal, tetapi saya tidak tahan dengan tuntutan yang bisa terbilang ketat itu, ma. Saat Jifar masuk SMA, Jifar berpikir untuk kabur saja dari rumah. Oleh karena itu Jifar memilih sekolah yang jauh agar bisa tinggal jauh dari mama dan papa."
"Lalu? biaya kamu kuliah dan lain-lain bagaimana?"
"Jifar gak berani buat minta sama orang tua, tapi mereka tetap membiayai Jifar tiap bulan sampai sekarang. Kadang Jifar juga bekerja separuh waktu untuk melebihi uang jajan Jifar. Gitu, ma."
Mama merasa kasihan kepada Jifar. Bahkan Dyza yang mendengarkan penjelasan Jifar tersebut pun menahan tangisan. Karena yang diketahui Dyza saat mereka awal bertemu ialah Jifar anak yang paling terlihat bahwa ia anak yang selalu bahagia dan memiliki nasib baik. Tetapi setelah Jifar bercerita kepada Dyza beberapa hari pasca ia menerima tawaran Jifar untuk menjadi perempuannya, Dyza baru tau bahwa selama ini Jifar tidak memiliki teman selain abang-abangnya yang Jifar kenal melalui karirnya.
"Baik deh kalo gitu. Kamu boleh tinggal di sini, Jifar. Tapi jangan hari ini, mama perlu izin dari papa Dyza dulu nanti," izin mama.
"SERIUS, MA?! IH MAMA BAIK BANGET DEH, JADI TAMBAH SAYANG," Dyza langsung memeluk mamanya.
"Waduh, gapapa, ma. Maaf ma, udah ngerepotin," ucap Jifar merasa tidak enak.
"Yaudah ini hias kuenya gih, jangan berantakan," suruh mama kepada Jifar dan Dyza.
"SIAP MA!" sorak Jifar dan Dyza.
"Hihihi bareng lagi."
"Hihihi bareng lagi."
"Jodoh kali," goda Jifar.
"Ini gimana cara ngeluarin krimnya?" tanya Jifar bingung.
"HADUHH, digunting dulu plastiknya atuh, sayang. Lucu banget kamu ah," Dyza gemas terhadap tingkah Jifar.
"Ohhhh hehehe, kagak tau."
Selesai menghias kue, Jifar mendapatkan panggilan dari ponselnya. Jifar berjalan keluar rumah dan mengangkat panggilan tersebut.
- Jifar POV -
Gua melihat panggilan tersebut dan ternyata itu panggilan dari mama.
"Anjir, kenapa mama nelpon," kesal gua.
Gua mengangkat panggilan mama tetapi gua tidak mengawali pembicaraan.
"Halo Jifar, lagi apa kamu sekarang? Sudah makan? Uangnya harus masih sisa banyak ya, Ji."
"Bacot," bisik gua, tapi sepertinya itu tetap terdengar.
"Kamu bilang apa?!"
"Hah? Kagak."
"Lagi di mana kamu? jawab!"
"Di apartment," gua berbohong.
"Pulang sekarang, gak ada tolakan ya. Mama tunggu, jam 12 harus udah sampe."
Tanpa pamit, gua langsung mematikan panggilan tersebut. Jujur, gua lelah.
Kenapa gua harus mendapatkan orang tua yang kayak gini? Maksud gua, kenapa gua lahir di keluarga yang bahkan sifat gua berbeda dari sifat mereka? Apa gua anak pungut? Tapi kagak juga karena akta kelahiran gua jelas-jelas nama ortu gua ya mereka. Terus juga gua gak punya siapa-siapa selain Dyza dan abang-abang gua. Gini banget punya strict parents, emang gua kayaknya kudu mati aja. Jangan dah, ntar Dyza diambil orang lain.
- Jifar POV end -
Jifar kembali menemui Dyza dan berniat untuk pamit karena harus pulang.
"Ayank,"
"Apa? ih kenapa ayank ayank, alay tau, Ji."
"Haha, saya pamit ya. Maaf gak bisa lama-lama di sini. Mama suruh pulang."
"Oh? oke. Pulang aja, Ji. Jangan telat, ntar kamu digebuk, aku yang sedih..." Dyza cemberut.
"Ahaha, gapapa sayang. Jangan khawatir, ya," ucap Jifar menenangkan Dyza dan mengelus lembut rambut Dyza.
"Mama, Jifar pamit pulang ya," pamit Jifar kepada mama Dyza yang sedang memainkan handphone di sofa.
Mama mendengar pamitan Jifar lalu menyaut "Iya Jifar, hati-hati. Itu kuenya bawa aja."
"Iya sudah, ma."
Dyza mengantar Jifar sampai depan rumah. Jifar langsung menyiapkan motornya dan berpamitan kepada Dyza.
"Dadah cantik."
"Dadah ganteng... hati-hati di jalan ya," kata Dyza.
Jifar hanya menganggukkan kepala lalu mengendarai motornya dengan laju.

Komentar
Posting Komentar