; Pertarungan

sebelum serius, jangan lupa istighfar -jwa



Pada siang hari, Jifar pergi dari apartmentnya menuju tempat yang sudah dijanjikan oleh oknum lawan. Tempat yang dimaksud adalah bangunan yang terlihat sudah tua dan tidak berpenghuni, jauh dari keramaian dan lokasinya tidak bisa terlacak oleh peta. Tempat tersebut penuh dengan ban mobil bak tempat bengkel bekas. Sekitar 18 menit si oknum menunggu Jifar, akhirnya Jifar datang dengan motor dan menggunakan pakaian kaos hitam yang terlihat simple. 

"Woi, haha akhirnya lu berani dateng juga ke sini. Welcome to the party, bro," oknum lawan menghampiri Jifar lalu menepuk pundaknya. 

Tanpa aba-aba, Jifar bergegas menonjok pipi lawan dengan sangat keras. "MAU LU APA ANJING!" 

Oknum yang sedikit merasakan sakit karena bogeman Jifar langsung menangkap kerah baju Jifar dengan tangan kanan sampai Jifar memegang tangan lawan menggunakan dua tangan. Jifar didorong sampai badannya membentur di tembok. Kemudian dia menunjuk Jifar menggunakan jari telunjuk tangan kiri tepat di depan mata Jifar dengan penuh amarah. 

"Lu! Jadi orang gosah songong! Lu bisa dapetin Dyza sekarang, tapi gak buat nanti! Gua pastiin kalo gua bisa ngambil Dyza dari lu! Inget itu!" lalu oknum melepaskan Jifar dengan sekuat tenaga. 
"Kalo lu berani lawan gua, gak segan-segan gua abisin lu di sini. Jangan harap lu bakal selamat dari gua!" 

"Oh gitu mau lu? lu ngelawan gua hanya karena lu gak bisa dapetin Dyza? HAHA GOBLOK LU SETAN! Dyza emang gak pantes lu dapetin, karena lu bukan orang yang tepat buat dia!" tegas Jifar.

"Bacot lo monyet!" si lawan menendang perut Jifar sehingga Jifar kesakitan dan memegang perutnya. Dengan merasa senang, lawan juga menekan badan Jifar dengan sikutnya sampai Jifar pun tergeletak di lantai. Tak perlu lama-lama, Jifar bangkit dan menampar dia dengan kekuatan yang tidak sedikit. 

"Akh, sini lu! Gua gak bakal ngelepasin lu sampe lu ngasih Dyza ke gua!" 

"Kagak bakal anjing!" 

Jifar dan oknum ini bertarung dengan kekuatan otot yang sama-sama tidak tertandingi. Sebab Jifar dan dia rajin berolahraga. Oknum menendang, menonjok, sampai membanting Jifar. Begitu pun dengan Jifar yang sangat lincah untuk bertarung. Karena oknum telah lelah, pada saat itu juga dia mengakhiri pertarungan dengan mendorong Jifar dengan kuat. Pada akhirnya, Jifar babak belur oleh oknum tersebut. Terdapat dua bogeman di mukanya dan bibirnya yang berdarah, perut yang nyeri serta mata yang memerah. 

"Lu boleh lepas sekarang, tapi tunggu pembalasan gua yang berikutnya! INGAT ITU JIFAR BANGSAT!" kata oknum lawan. Lalu dia pergi meninggalkan Jifar yang sedang memegang perutnya kesakitan. 

"Ha- ha, bagus juga perlawanan lu wahai bajingan. Gua gak bakal pernah melepaskan Dyza. Dyza itu mi- milik gua ha.." Jifar merasakan pusing serta mual. Badannya sangat lemah karena dia telah menghabiskan banyak energi untuk melawan orang itu. 

Setelah itu Jifar meninggalkan tempat tersebut. Jifar memilih untuk tidak pergi ke rumah Dyza, melainkan dia balik ke apartment untuk menyembuhkan dirinya sendiri. 


Komentar